Psikologi Pengantin


Lelaki menikah beharap pasangannya tak pernah berubah. Perempuan menikah, berharappasangannya tak pernah berubah. Sayangnya kedua belah pihak pasti kecewa.
(Albert Einstein)

Kalimat menarik ini merupakan salah satu pengantar menarik dari buku apik yang berjudul “Psikologi Pengantin” karya Sinta Yudisia.
Tidak dipungkiri bahwa bagi kita yang tengah sibuk mencari tambatan hati dunia akhirat, kegalauan tentu saja melanda tatkala dihadapkan dengan berbagai pilihan. Khususnya pemilihan tentang pasangan hidup. Nah, untuk mencari dan memilih tentu saja tidak mudah, bukan? Lantas seperti apakah sesungguhnya figur pendamping yang perlu dan layak untuk dicari?
Jawabannya beragam, pasti nih ada yang jawab tampan, tinggi, gagah, atletis, cantik, tajir, soleh dan lain sebagainya.

Apakah gambaran di atas masuk ke list kalian?

dan

Apakah salah? Tentu saja tidak. Karena sangat penting kiranya untuk  kita memiliki kriteria dalam  memilih pasangan hidup.
Ngomongin soal jodoh memang gak pernah ada abisnya ya guys. Memang benar, bahwa ghak ada yang salah dengan itu semua. Tapi kalau udah ngomongin soal pendamping, kita gak bisa semata-mata mikir enaknya aja. Karena jodoh yang kita cari tentunya harus bisa membuat kita tentram, nyaman dan menjadi lebih baik. Percuma kan kalau menikah dipenuhi dengan perasaan duka dan derita. Maka apa saja yang perlu dilihat, simak uraian Sinta Yudisia dalam mengulas hal ini.

sumber : pixabay.com
Pertama ialah agamanya 
Menurut Sinta Yudisia dalam bukunya, agama menjadi hal penting yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Agama adalah tolak ukur yang mendasar dan menjadi penentu arah bahtera rumah tangga ke depan.
Bagi perempuan, penting untuk memilih seorang laki-laki yang bagus agamanya, dan pantas untuk dijadikan Qowwam (Yudisia, 2016:13). 

Kedua, memilih karena fisik
Soal fisik tentu saja bisa masuk pertimbangan. Namun, ketampanan dan kecantikan bersifat relatif. Kita tidak perlu memaksakan parameter orang lain untuk diri sendiri, begitu pesan Mbak Sinta. Kalau dipikir pikir emang bener juga. Karena sejatinya, menikah menjadi ladang untuk memperoleh kenyamanan. Bukan sekadar pamer ketampanan dan kecantikan pasangan.

Ketiga, status
Nah, ngomongin soal status bisa dibilang sedap-sedap mantap. Status pasangan suami istri memang selayaknya seimbang. Kenapa mesti begitu? Tujuannya agar menghindari ketimbangan di kemudian hari. 
Seimbang, setara, bukanlah benar-benar sama. Boleh jadi keluarga istri berasal dari dunia medis yang mencintai akademis, sedangkan keluarga suami dari kalangan agamana yang juga mencintai keilmuan. Atau keluarga suami yang berasal dari golongan pengusaha yang pantang menyerah dan keluarga istri berasal dari kalangan Aparatus Sipil Negara yang menjunjung nilai integritas (Yudisa, 2016:18).

Tapi yang perlu digaris bawahi, gelar agtaupun status memang bukan satu-satunya untuk meihat kesetaraan. Kalaupun terjadi perbedaan status yang mencolok, maka perlu kiranya saling jujur. Sehingga persoalan ketimpangan bisa diselesaikan.

Keempat, Pendidikan
Tahu gak bahwa pendidikan menjadi salah satu modal yang gak kalah penting ketika seorang idnividu ingin membina sebuah keluarga. Bisa dilihat dari banyaknya orang yang berupaya meraih pendidikan tinggi.
Namun demikian, sebisa mungkin pendidikan tidak menghalangi seseorang dalam menyempurnakan separuh dien. Beragam ketakutan, kekurangan rezeki dan pikiran buruk lainnya perlu di tepis sedemikian rupa. 

Nah, selain beberapa hal yang dikemukakan di atas. Hal lain yang perlu dipertimbangkan ialah mengenai orang tua, keluarga, saudara kandung maupun keluarga besar. Perlu diingat nih, bahwa pernikahan bukan sekadar untuk menyatukan dua individu yang berbeda, tapi justru dua keluarga yang berbeda. Jadi, kalau mau menikah, kita tidak boleh egois. Misalnya hanya mencintai pasangan saja. Namun kita perlu juga mencintai orang tua dari pasangan kita. Mintalah doa restu dari orang tua. Ketika menikah, akan ada hal dan kebiasan baru yang memerlukan adaptasi. Jadi kita perlu senantiasa berbenah, agar bisa saling memahami.

Setelah menikah, bagi perempuan nih, kita enggak lagi hanya mengurusi diri kita sendiri. Ada waktu yang memang telah menjadi hak suami. Nah, bagaimana dengan seorang perempuan yang juga masih ingin berkarier. Sinta Yudisia pun membagi beberapa tips menarik dalam menghadapi kondisi ini :

Pertama, perhatikan faktor finansial
Tidak dipungkiri bahwa faktor finansial terkadang menjadi pemicu pertengkaran yang hebat dalam rumah tangga. Sehingga, saling terbuka serta kemampuan memanajemen keuangan dengan baik, sangat dibutuhkan dalam menyikapi hal ini.

Kedua, Kejujuran
Kejujuran yang dibangun sejak awal akan membentuk trust-kepercayaan. 
Sehingga di masa depan, pihak yang berjuang tidak akan menyia-nyiakan pasangan di sisinya. Serta pihak yang mengorbankan kariernya merasa bahwa dia pun bagian dari keberhasilan karier pasangannya. (Yudisia, 2016:45).

Ketiga, tidak menyalahkan hubungan

“Dulu, kita terburu-buru menikah sih !”

“Jika seperti ini, repot kalau hubungan kita dipertahankan. Aku terus yang mengalah. Kamu kapan, Mas?”

Ucapan-ucapan demikian bisa jadi terlontar ketika disulut emosi. Menyalahkan pasangan kita sebagai penghambat karir rasanya menjadi suatu hal yang sia-sia. Mencari solusi adalah hal yang utama. Bukankah demikian?

Tak cukup disitu, setelah menikah bagaimana rencana ke depan?
Hal ini tentu saja harus dipikirkan pula. Menikah butuh perencanaan sehingga perlu kiranya kita mendesain seperti apa ke depannya. Ibarat rumah, kita perlu memikirkan di mana nantinya ruang tamu, ruang keluarga, dapur, apa saja perabotan yang hendak dipakai. Begitu pun setelah menikah nantinya. Lantas apa saja yang perlu dipersiapkan oleh para calon pengantin dalam mempersiapkan hal tersebut.

Pertama,  memahami agama lebih sempurna
Tipisnya pemahaman terhadap dinullah mengakibatkan banyak penyimpanga, ketidakstabilan, kerusakan, degradasi bahkan kepunahan. 

Kedua, Punya anak
Anak merupakan generasi penerus manusia di muka bumi. Anak mampu membantu kedua orang tuanya mendapatkan tabungan akhirat yang tiada putusnya. Serta dapat memberikan kemuliaan di yaumil hisab (Yudisia, 2016:52).

Ketiga, mapan finansial dan mandiri
Beban ekonomi yang disangga suami seorang, tentu akan berat. Sehingga seorang istri yang mampu mencari tambahan pengahasilan tanpa mengurangi peran utamanya sebagai seorang istri dan ibu, sangat membantu kelangsungan sebuah keluarga. (Yudisia, 2016:52).
Namun, di awal perlu kesepakatan mengenai hal ini. Apakah memang istri diperkenankan untuk meniti karir di ruang publik atau tetap menjalani karirnya sebagai ibu rumah tangga.

Keempat, Berbakti Kepada Orang Tua
Ketika seorang perempuan menikah, maka tanggungjawabnya terletak di tangan suami. Meski demikian, orang tua tetap menjadi hal utama yang harus diperhatikan. Menjamin kehidupan orang tua di masa mendatang, harus masuk dalam daftar kehidupan seseorang. (Yudisia, 2016:55)

Kelima, Mewujudkan cita-cita
Menikah bukanlah menjadi penghalang untuk mewujudkan cita-cita. Malah justru bisa jadi sebaliknya. Ketika harapan tersebut seolah mustahil diperoleh sendirian, berdua bersama pasangan menjadi impian yang mungkin diraih. (Yudisia, 2016:56)

Keenam, Karier
Mengapa karier perlu menjadi perhatian dalam perencanaan masa depan? Karena karier merupakan sarana dalam mengaktualisasikan diri seseorang. Sinta Yudisia menyampaikan bahwa jangan pernah berpikir, menikah dan berkeluarga menghambat karir seseorang.

Ketujuh, memperbaiki masa lalu
Pernikahan harus direncanakan untuk mengantisipasi kekurangan, salah, dan keliru dari masa lalu. Agar nantinya tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.

Buku Sinta Yudisia ini dapat menjadi jawaban dalam menghadapi kebingungaan bagi para calon pengantin ataupun para pasangan yang baru saja menikah. Ibarat masakan, buku ini dapat menjadi garamnya lah. Selain membahas mengenai di atas, buku ini juga mengupas mengenai pernak-pernik pernikahan serta kalkulasi biaya pernikahan zaman now. Plus pengetahuan mengenai seksiologi dan serta aktivitas post wedding seperti : persiapan rumah tinggal, money management, kapan punya anak, stabilisator,serta kapan waktunya me-time. Buku yang dikemas dengan gaya bahasa yang sederhana ini menurutku sangat mudah dimengerti. Wawasan kita akan jauh lebih terbuka dalam menyikapi pernikahan itu sendiri. Sangat cocok bagi kalian para calon perempuan yang tengah galau mencari pendamping, maupun yang akan mengarungi bahtera kehidupan rumah tangga. So, tunggu apa lagi, baca aja yuk buku psikologi Pengantin Karya Sinta Yudisia.

Tidak ada komentar

Terimakasih banyak telah berkunjung ke Blog Saya
Semoga silaturahmi senantiasa terjalin (^_^)